Posted on

Jembatan Bambu, Akses ke Ekowisata Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya

Ingin menikmati wisata kota Surabaya dengan suasana tenang bernuansa alam, ekowisata hutan mangrove Wonorejo layak untuk Anda kunjungi bersama keluarga.

Untuk mencapai lokasi Ekowisata Mangrove Wonorejo, dapat ditempuh melalui perjalanan air selama 15 menit dengan menggunakan perahu dari dermaga Ekowisata Mangrove Wonorejo. Anda akan dikenakan biaya sebesar Rp.25.000,- pergi pulang untuk tarif orang dewasa dan Rp.15.000,- untuk tarif anak-anak.

Selama menyusuri aliran sungai menuju ke lokasi hutan mangrove, Anda akan disuguhi pemandangan alam berupa keberadaan hewan liar dan burung-burung yang hinggap di pohon kanan kiri sungai.

Dan setibanya dilokasi, Anda dapat memulai eksplorasi kawasan hutan mangrove dengan akses utama menggunakan jembatan yang terbuat dari anyaman bambu selebar 2 meter yang berdiri di atas air sebagai titian penembus lebatnya hutan bakau.

Ekowisata Mangrove Wonorejo

Jembatan bambu ini merupakan penghubung utama menuju Gazebo Polwiltabes Surabaya dan Gazebo Pertamina. Bangunan yang terbuat dari bambu yang akan menjadi tujuan utama dan akhir di penghujung titian jembatan bambu.

Bagi pecinta selfie, sepanjang jembatan bambu menuju dua gazebo utama dibagian penghujung jembatan ini, merupakan tempat favorit untuk mengabadikan momen foto spesial yang jangan sampai Anda lewatkan.

Menarik bukan? untuk ukuran kota Surabaya yang padat aktifitas dan padat pemukiman namun masih memiliki potensi alam yang bisa dieksplorasi. Nah bagi yang ingin berwisata ke Ekowisata Mangrove Wonorejo silahkan mengunjungi alamat ini, Jl. Bozem Wonorejo, Wonorejo, Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur 60296. No. Telepon Manajemen yang dapat dihubungi adalah (031) 8796880.

Foto :

http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/03/Hutan-Mangrove-Wonorejo.jpg

Posted on

4 Jembatan Gantung Bambu Yang Pernah Ada Pada Masa Pendudukan Belanda

Bambusouvenir.com – Masyarakat Indonesia pada masa pendudukan Belanda telah memanfaatkan bambu untuk membuat jembatan bambu yang dugunakan untuk menyeberaangkan pejalan kaki dan kendaraan.

Jembatan merupakan salah satu sarana transportasi vital yang berfungsi sebagai penghubung antara satu daerah dengan daerah yang lainnya untuk penyeberangan pejalan kaki, kendaraan atau kereta api di atas rintangan sungai, lembah, saluran irigasi dan lain-lain. Sejarah mencatat, keberadaan jembatan sudah cukup tua bersamaan dengan terjadinya hubungan komunikasi dan transportasi antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Desain dari jembatan sangat bervariasi, tergantung pada fungsi dari jembatan atau kondisi bentuk permukaan bumi dimana jembatan tersebut dibangun. Menurut strukturnya terdapat beberapa jenis jembatan, diantaranya jembatan alang (Beam Bridge), jembatan penyangga (Cantilever Bridge), jembatan lengkung (Arch Bridge), jembatan gantung (Suspension Bridge), jembatan kabel-penahan (Cable-Stayed Bridge), jembatan kerangka (Truss Bridge) dan jembatan bisa pindah (Moveable Bridge).

Jembatan Gantung Bambu

Masa pendudukan Belanda di Indonesia (Khususnya pulau Jawa) adalah masa dimana konstruksi jembatan banyak menggunakan bambu sebagai bahan dasar selain kayu. Jembatan digantungkan dengan menggunakan tali rotan dan potongan bambu, Kabel baja belum dikenal dan digunakan saat itu.

Bahan bambu dipilih karena memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, mudah dikerjakan dan ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan pada waktu itu.

Kuatnya material bambu sebagai bahan dasar pengganti baja juga diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Morisco (1999), menyatakan bahwa bambu dapat digunakan sebagai pengganti baja tulangan dan mempunyai kekuatan tarik yang tinggi mendekati kekuatan struktur baja.

Dan berikut 4 foto jembatan gatung dari bambu yang sempat terdokumentasi dengan baik sehingga sejarah penggunaan bambu sudah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia ada.

  1. Jembatan Tjipait

Jembatan TjipaitJembatan Tjipait digunakan untuk menyebrangi sungai Tjitarum. Jembatan ini dibangun sekitar tahun 1890-an dengan konstruksi yang begitu menakjubkan. Jembatan ini juga dilengkapi dengan atap sirap sebagai penahan dari tetsan air hujan, kemungkinan selain dapat digunakan sebagai tempat berteduh bagi para penyebrang jembatan, atap sirap ini juga sebagai pelindung jembatan agar konstruksi bambu tidak cepat lapuk oleh air hujan.

  1. Jembatan Serayu
Jembatan Bambu Kali Serayu
Sumber : Wikipedia

Jembatan serayu dibangun di atas kali Serayu, Wonosobo. Jembatan ini dibangun sekitar tahun 1900-an, memiliki konstruksi dari bambu yang merupakan perpaduan penggunaan bambu dan rotan sebagai bahan bangunannya.

  1. Jembatan Kraksaan
Jembatan Gantung Dari Bambu
Koleksi : http://www.kitlv.nl

Jembatan Kraksan di Pasuruan Jawa Timur bisa dikatakan merupakan paduan antara bambu dan rotan. Jembatan ini dibangun sekitar tahun 1900-an melengkung melewati sebuah sungai, konstruksinya hampir sama dengan jembatan di Wonosobo.
Jembatan bambu dan rotan Kraksaän, residensi Pasoeroean 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

  1. Jembatan Selokromo
Jembatan Gantung Dari Bambu
Sumber : Wikipedia
  1. Jembatan Tjisokan
Jembatan Gantung Dari Bambu
Sumber : Wikipedia

Jembatan bambu di atas Kali Tjisokan, daerah Preanger, Jawa Barat

  1. Jembatan Banjarnegara
Jembatan Gantung Dari Bambu
Sumber : Wikipedia