Posted on

Sembilu, Alat Khitan Tradisional Dari Bambu

Bambusouvenir.com – Belum adanya peralatan modern, khitan pada masa dahulu oleh mayoritas masyarakat kampung dilakukan secara tradisional yaitu menggunakan sembilu.

Sunat atau khitan oleh mayoritas muslim wajib hukumnya yang berfungsi membersihkan diri, diperkuat juga oleh alasan medis bahwa dengan khitan dapat menghindarkan dari fimosis. Fimosis merupakan suatu keadaan keadaan di mana kulit pada kepala penis atau kulup mempunyai lubang terlalu sempit sehingga kulit kulup tidak dapat tertarik kebelakang atau membuka yang memungkinkan kotoran serta penyebab penyakit untuk menempel atau berkumpul di ujung penis.

Khitan umumnya dilakukan oleh laki-laki yang telah beranjak dewasa, namun tidak ada batasan usia yang pasti kapan sebaiknya khitan dapat dilakukan. Mengikuti tradisi, biasanya setelah khatam Al-qur’an, atau bagi mereka yang telah berani untuk melakukannya.

Saat ini proses khitan menjadi sangat cepat, mudah serta minim rasa sakit karena telah ditunjang oleh peralatan khitan modern, seperti menggunakan laser. Kemudahan itu akan sangat berbeda kondisinya dengan zaman dahulu, era sebelum 1980an, proses khitan masih dilakukan dengan menggunakan peralatan tradisional yaitu sembilu atau lebih dikenal dengan sunat klasik atau dorsumsisi.

Khitan Dorsumsisi

Merupakan metode khitan dengan menggunakan alat potong sembilu (kulit bambu yang telah diraut menjadi sangat tajam). Alat lain yang dapat digunakan adalah skalpel (pisau bedah) atau silet, namun yang lazim dijumpai dikampung-kampung adalah dengan menggunakan sembilu.

Bagaimana prosesnya? dari beberapa nara sumber, secara umum ada beberapa langkah, berikut dikutipkan berdasarkan pengalaman BlueJack (Bukan nama sebenarnya) :

  1. Anak akan disuruh mandi pada saat hari masih sangat pagi. Dibersihkan seluruh kemaluan anak sampai benar-benar bersih. Si anak lalu di suruh berendam di air yang sangat dingin, kegunaannya adalah untuk proses bius tradisional agar tidak terlalu sakit saat kulit kulupnya di potong.

  2. Si anak didudukkan dipangkuan orangtuanya berhadapan dengan calak/mantri/paraji/tukang sunat dan badan, tangan, dan kaki mereka dipegang erat-erat ini dimaksudkan agar anak tidak bergerak sewaktu di sunat karena akan membahayakan, biasanya dibutuhkan 3 orang untuk memegangi badan, tangan, dan kaki si anak agar tidak meronta.

  3. Jika si anak sudah terpegangi erat-erat maka juru sunat tersebut akan mulai beraksi, ujung kulup anak lalu di tarik ke belakang agar kepala penis anak tersebut muncul, kemudian diambil kapas dan dibersihkan kepala penis tersebut dari kotoran kotoran yang masih menempel. Setelah dirasa cukup bersih rongga diantara kulup dan kepala penis akan dimasukkan sebilah sembilu, lalu juru sunat tersebut akan memberi tanda dimana akan memotong kulup tersebut.

  4. Juru sunat akan menarik sepanjang panjangnya kulit kulup tersebut hingga si anak berteriak, hal itu bertujuan agar kulit kulup mudah untuk di potong. Setelah ditarik, sebilah bambu penjepit akan dijepitkan pada kulup anak tersebut dengan sangat kuat, dimaksudkan agar tidak mudah terlepas dan kepala penis tidak ikut terpotong.

  5. Setelah penjepit dipasang maka selanjutnya adalah proses pemotongan, juru sunat akan mengambil sembilu juga pecahan batok kelapa kering yang tajam. Juru sunat akan membacakan do’a lalu kulit kulup dipotong. Si anak pun menangis sekencang-kencangnya karena sakit luar biasa, panas, perih di kemaluannya dan para orang tua biasanya akan lebih erat memegangi anak tersebut karena anak tersebut akan lebih kuat meronta-ronta. Membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk proses pemotongan berlangsung.

  6. Setelah proses pemotongan selesai juru sunat akan menarik penjepit bambu hingga terlepas, dan saat itu darah akan deras keluar dari luka potongan tadi. Juru sunat akan menarik sisa kulup kebelakang dan melipatnya kedalam lalu dililitkan perban pada kemaluan anak tersebut.

  7. Setelah semuanya selesai si anak lalu ditidurkan dan biasanya akan diberikan ucapan selamat dengan mendapat hadiah berupa uang maupun yang lain dari keluarga dan tetangganya yang datang menjenguk. Setelahnya biasanya akan diadakan acara selamatan bagi si anak.

Metode khitan ini memang menjadi metode tercepat dari semua metode yang ada. Namun, metode ini memberikan dampak yang sangat luas. Dampak tersebut adalah terpotongnya pembuluh darah yang berperan mengalirkan darah ke sebagian kepala penis, terpotongnya susunan syaraf yang diduga memengaruhi kenikmatan saat hubungan seksual, pendarahan yang hebat jika pasien mengalami hemofilia yang belum terdeteksi, lecet yang disebabkan karena masih adanya perlengketan kulit dengan kepala penis saat pemotongan dan rasa sakit yang amat sangat bisa menyebabkan pasien bergerak dan menyebabkan alur pemotongan tidak rata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*